Senin, 15 Februari 2016

Cerpen "Say Love to Problems"


Say love to problems


Kutengadahkan kepalaku ke langit, awan-awan gelap mulai berarak menutupi bintang-bintang yang satu persatu hadir. Ya, kilauan senja tadi telah bergeser dengan kegelapan malam. Perlahan gundah merayapi hatiku. Suasana kampus saat ini sangatlah sepi ditambah gelap yang kemudian hadir, menambah kalut pikiranku. Kuberjalan menyusuri jalanan kampus seorang diri menuju gerbang kampus. Di sepanjang jalan hatiku was-was.
“kira-kira di sana masih ada angkutan kampus atau tidak yah” ucapku selalu dalam hati. Langkahku semakin cepat, kini memasuki hamparan rumput di lapangan kampus, ditepi lapangan pohon-pohon berjejer dengan rapi, rantingnya melambai-lambai tertiup bengisnya angin sore yang juga menampar-nampar tubuhku. Sungguh berani aku ini, pulang seorang diri, tapi apa boleh buat. Aku sudah memilih dan pantang untukku menyesali apa yang telah kupilih ini. Sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Biologi, di tengah-tengah kesibukan tugas kuliah ditambah tugas praktikum yang menumpuk, masih kusempatkan diriku hadir di kajian hadis sore tadi yang menyebabkan aku pulang nyaris memasuki waktu magrib seperti ini, ditambah hujan yang sepertinya akan turun sebentar lagi. 
“Allah akan membantuku dengan cara yang tak disangka-sangka” batinku. Itu adalah kata pamungkas bagiku jika ada masalah yang datang menyapa. Membuatku kembali tegar menghadapi semuanya.
Jarakku dari tempat parkir angkutan kampus sudah dekat, tatapan ku kuarahkan ke tempat parkiran itu berharap di sana masih ada mobil merah yang senantiasa mengantarku pergi dan pulang kampus. Mataku menangkap bayangan warna merah, senyum mulai tersungging di bibirku. “Alhamdulillah masih ada satu angkutan umum di sana” Ucapku pelan.
Langkahku semakin dekat dengan mobil merah yang akan aku tumpangi. Tatapanku mulai liar, mencari-cari sopir angkutan umum ini. Gelisah kembali mendekapku, tak kudapati seorang pun di sini. Sekitar mulai gelap. Tembok-tembok beton yang melingkupi area parkiran seakan menghadirkan siluet yang menakutkan, ditambah pepohonan besar yang berdiri dengan raut garang membuat rasa takutku mulai tersulut. Tak satu pun orang berlalu di sini, aku semakin takut. Aku mulai mengambil inisiatif untuk memasuki mobil, daripada berdiri di luar seperti ini, mungkin lebih aman jika aku duduk di dalam mobil, kebetulan mobil ini tidak terkunci. Ku rebahkan punggungku ke dinding mobil, menghela nafas dalam-dalam.
“Bagaimana ini, aku harus ke mana” batinku. Nada dering ponselku berbunyi, membelah kesunyian yang sejak tadi melingkupi kampus. Kulirik pesan yang ada di ponsel, ternyata adikku mengirim pesan
“Kak, dimana. Kenapa belum pulang?” Nah, adikku mengirim pesan yang membuatku semakin gundah.
“Sial, mana pulsaku nggak ada lagi” desisku. Andai saja aku punya pulsa mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya. Aku bisa nelfon ayah atau dia yang mungkin bisa membantuku. Eh tidak, ayahku kan lagi ke Kalimantan menjenguk kerabat yang sakit. Apa boleh buat, tidak ada pilihan lain lagi, uangku sudah habis untuk biaya print dan keperluan lain yang kubutuhkan untuk menjilid laporan, ditambah lagi ongkos menjilid yang harganya lumayan mahal 50 ribu, berhasil membuat dompetku sekarang hanya berisi lembaran berwarna ungu. Ya, aku cuman punya uang 10 ribu lagi. Jika tadi ku pakai untuk membeli pulsa mungkin uangku sudah habis. Dengan pertimbangan yang cukup matang, ku lebih memilih untuk naik angkot. Selagi aku masih bisa, mengapa mesti merepotkan orang lain. Itu prinsipku yang kupegang teguh, ditambah lagi larangan untuk berboncengan dengan lawan jenis membuatku enggan untuk memilih jalan lain.
Sembari menunggu supir angkot yang belum tentu datang, beragam kata penyemangat ku hadirkan untuk memadamkan rasa takutku. Teringat kata-kata mutiara dari senior jurusan pendidikan agama yang menyampaikan materi di pengajian tadi. Sebagai ucapan penutup, ia mmberikan kata inspiratif yang sempat membakar semangatku
“Dalam hidup, masalah hadir untuk mendewasakan kita, membuat cara berpikr menjadi semakin matang. Kita diumpamakan seperti Anak panah dan busur. Sementara masalah yang ada diumpamakan sebagai gaya tarikan untuk membuat anak panah melejit. Semakin besar gaya tarik kebelakang yang diberikan, maka gaya lentingan anak panah untuk melejit jauh semakin besar, hasilnya anak panah mampu melejit, sebaliknya jika gaya tarikan yang diberikan kecil atau mungkin tidak ada sama sekali, maka anak panah akan tetap berada pada tempatya, tidak ada pergerakan, tidak akan pernah melejit jauh. Seperti itu pula masalah yang kita hadapi, semakin besar masalah datang untuk menarik kita mundur, maka peluang untuk melejit lebih jauh akan semakin besar”
                Langkah kaki hadir memecah kesunyian, “sepertinya sopir angkot sudah datang” hatiku sedikit lega namun masih ada rasa was-was. Betapa tidak, aku perempuan dan hanya seorang diri sementara supir angkot pastinya laki-laki. terlihat kepala seseorang dari pintu menengok masuk ke dalam mobil, menyorot isi mobil. Sepasang mata itu mendapatiku sedang duduk di dalam mobil. Sopir angkot itu sepertinya hampir seusia denganku, cuman nampak lebih tua beberapa tahun.
“Mau ke kampus satu ?” tanyanya
“Iya” jawabku singkat
“kamu tinggal dimana dek?’ tanyanya lagi
“Di Panciro” jawabku jujur
“oh, di Panciro..”
Sopir angkot itu mengambil posisi di dekatku, dan bercerita panjang lebar”
Rambut di kulitku mulai bergidik. Rasa takut terasa menjalar disepanjang tubuh melebihi rasa takut ku tadi. Tatapanku mengarah ke pintu mobil, tanpa memperhatikan semua kata yang diucapkan sopir angkot itu, kakiku dengan cepat kulangkahkan menuju keluar angkot. Langkahku semakin cepat menjauhi mobil merah itu, suara sopir angkot semakin kencang memanggilku untuk tetap tinggal.
 “oh no, I will not” ku cepatkan langkahku, bahkan sepertinya ini bukan melangkah lagi tapi lebih pantas disebut berlari.
Ku berlari tanpa menoleh saking takutnya. Saat berada cukup jauh, ku pelankan langkahku. Nafasku tersengal-sengal. Tubuku yang sejak tadi terasa letih kembali kupaksakan bekerja keras, berlari menjauhi parkiran kampus. sekarang aku ada di luar kampus, di tepi jalan raya. Tatapanku hanya mengarah ke aspal. Tak berani menatap sekeliling, redupnya lampu jalan hanya mampu membedakan warna hitam dan putih. Pepohonan di tepi jalan berwarna hitam, aspal yang langsung terkena sorotan lampu berwarna sedikit lebih terang. Pikiranku ingin mengosongkan diri “Eh, tidak. Jangan kosonngkan pikiran. Bahaya, jangan sampe kejadian 4 tahun lalu terulang”.
Kulit wajahku menjadi dingin
“Eh, apa ini” ku sentuh wajahku, kudapati air.
“Jangan-jangan aku nangis, eh tidak.. tidak, aku tidak mungkin menangis, menangis adalah suatu pekerjaan yang sudah lama tak ku kenal”
Ku tengadahkan telapak tangan ke atas untuk memastikan, ternyata bukan aku yang menangis, tapi langit. ya, hujan gerimis mulai turun membasahi bumi Samata.  Pandanganku liar mencari tempat untuk berlindung. Tiba-tiba terbesit pikiran untuk meminta bantuan pada Uchy, teman sekelasku. Ya, ku ingat jelas, tadi sore ia mengajakku untuk nginap di tempatnya, kebetulan tidak jauh dari tempatku berdiri saat ini.
“Eh, tapi tunggu dulu Dil. Kosnya uchy kan agak jauh dari jalan raya”
Hatiku kembali menghadirkan pilihan
“Ke kosnya Uchy atau tidak yah”
Aku takut, kejadian seperti tadi terulang lagi.
“Ya Allah, help me.. help me”
Kutahu, hanya Allah yang selalu bisa kuandalkan. Hanya dia yang mampu memberiku pilihan lain yang lebih baik. Langkahku ku arahkan tanpa tujuan. Mataku kembali liar di jalan raya. Tak berselang lama, mataku mulai menangkap sosok yang tidak asing. Dari jarak kira-kira sepuluh meter, terlihat seseorang mengendarai motor, jaket yang dikenakannya tidak asing. Ya, dia Jum, teman teman sekelasku dengan jaket cokelat yang sering dikenakannya. Hatiku seperti menemukan secercah cahaya ditengah gulita. Dengan cepat kulambaikan tangan seraya memanggil Jum. Kecepatan motornya melambat dan berhenti tepat di depanku.
“Eh, dil. Sedang apa di sini, kok belum pulang?”
“hmm.. itu dia Jum. Sejak tadi aku ingin pulang tapi nggak ada yang ngantar”
“emang tadi abis apa ? kok baru pulang, oh iya angkot kampus sudah tidak ada?”
“Angkot sih ada, tapi.. hmm, ceritanya panjang. Pokoknya aku takut naik angkot”
Jawabku. Beberapa detik berlalu, sepi..
“Eh, Jum.. bisa tidak aku minta tolong ? please”
“Kuusahakan. memangnya apa Dil ?”
“Tolong antar aku ke Sungguminasa” pintaku dengan wajah kasihan.
“mm.. tapi aku gak tau jalan pulang ke Toddopuli” balas Jum
“gampang kok, kalau abis dari sungguminasa, berbalik arah, tinggal lurus-lurus aja, ikuti alur jalanan, trus diperempatan depan belok kiri” balasku dengan senyum yang agak dipaksakan. Otakku sepertinya sudah tidak mampu berpikir lagi.
“hmm, kalau gitu, silahkan naik Dill, aku antar”
‘Makasih, makasih,,, makasih banyak Jum”
Jum Mengangguk mendengarku berterima kasih. Sebenarnya aku tidak tega minta tolong ke Jum. Ia juga pasti capek mengurus laporan untuk dijilid. Ditambah lagi, ia baru di Makassar, belum tau banyak jalan, yang ia tau hanya jalan ke kampus dan jalan pulang ke todoppuli, rumah kerabatnya yang ditempati sejak menjadi mahasiswa di Makassar. “Hmm, apa boleh buat.. maaf Jum, kali ini aku sangat merepotkanmu.. maaf” batinku.
Jalan sepi, yang ada hanya suara motor Jum yang membelah udara dan angin malam yang terasa semakin dingin, menembus baju yang kukenakan. Beruntung hujan yang turun hanya berupa gerimis bukan hujan deras. Perutku keroncongan, sepertinya mulai protes karena sejak siang tadi tidak diberi makan. Betapa tidak, aku hanya sibuk mengurus laporan, laporan dan menuntut ilmu agama. Sungguh egois aku ini, berlaku dzalim terhadap diri sendiri.
Pulahan menit berlalu, di depan sudah tampak ramainya jalan Sungguminasa dan ingar bingarnya. Yah, walaupun belum sampai di rumah setidaknya di sini aku bisa naik angkot dengan lebih tenang. Angkot di sini masih banyak yang beroperasi, bahkan hingga jam 10 malam dan biasa penumpangnya jauh dari kata sepi. Betapa tidak, di Kota Kabupaten Gowa ini masyarakat yang pulang kerja sangat banyak, dan mereka banyak yang pulang dengan naik angkot.
“Jum, makasih banyak” Kata pertama yang kuucapkan saat turun dari motor.
“sama-sama Dill.. jalan pulangnya gimana?”
“Kalau dari sini, tinggal balik arah trus ikuti alur jalan seperti tadi. Di perempatan, belok kiri trus tembus di jalan Hertasning” Ucapku dengan pelan diikuti dengan gerakan tangan, gaya khasku saat menjelaskan.
“ohm.. okok” kata Jum sambil mengangguk tanda mengerti
“Hati-hati yah Jum, dan maaf aku merepotkanmu” teriakku pada Jum yang perlahan mengarahkan motornya menjauh
“I won’t to forget it.. thank’s so much jum” batinku
***
Kurebahkan punggungku di jendela angkot. Ku tarik udara dalam-dalam hingga dingin terasa memenuhi paru-paruku. Ku pandangi jejeran bangunan di tepi jalan yang nampak berlari menjauhi mobil yang kutumpangi. Walau sebenarnya bukan bangunan itu yang menjauh, tapi mobil ini. Dengan gaya dan daya dari pembakaran bahan bakar, mesin-mesin mobil mampu bersinergi menggerakkan ban mobil menghasilkan perpindahan. Rumus Fisika dari Issac Newton. Memang sangat jelas, perpindahan adalah hasil kali antara usaha dan gaya. Aah... kenapa aku memikirkan rumus Sir Isacc Newton, apa hubungannya coba, dengan yang kulakukan saat ini. Aku mulai malas berpikir, kehilangan fokus. Mungkin karna rasa lapar yang melandah, entahlah...
Perjalanan pulang sepertinya agak panjang, betapa tidak, macet membuat mobil sulit bergerak, bahkan untuk beberapa menit membuatnya tanpa pergerakan. Suara klakson dari banyak mobil membuat seorang anak kecil kira-kira berumur 6 tahun yang tadi tertidur pulas kini terbangun. Sepertinya ia baru sembuh dari sakitnya, selimut tipis berwarna biru muda melekat di tubuhnya yang sedang berada dalam pangkuan perempuan tua. Entahlah, mungkin ia neneknya atau ibunya. Mungkin ia anak bungsu wajar kalau diusianyayang masih muda ibunya sudah terlihat tua. Mereka duduk tepat di depanku. Kami sejajar duduk di bagian belakang angkot. Kuamati anak kecil itu, matanya agak bulat besar. Lehernya bengkak. Ya Allah, sejak tadi aku baru memperhatikannya. Ia sangat kurus. Tangisnya kini membuat suasana semakin ramai. Ia menangis sambil memegang kepala yang mungkin terasa sangat sakit. Perempuan tua itu kebingungan untuk melakukan apa si kecil ini tenang. Oh iya, aku ingat, di tas ada sebungkus lolipop, mungkin itu bisa menenangkannya. Ku buka bungkusnya dan menyodorkan pada anak kecil itu. Beberapa detik ia hanya menatap, tapi perlahan tangannya mulai bergerak meraih lolipop di tanganku. Ia mulai tenang. Perempuan paruh baya itu tersenyum padaku.
“Dari mana nak?” tanyanya padaku
“Dari kuliah bu” jawabku sambil tersenyum
“kok pulangnya larut ?”
“Hmm.. Tadi ada banyak urusan di kampus bu”
“kuliah yang baik nak, fokus ke pendidikan. Mumpung masih muda, tak usah pikirkan yang lain dulu” kata ibu itu
Mendengar kata-kata ibu itu, muncul pikiran negatif di otakku. Mungkin ibu ini menganggap aku ini pulang malam karena suka keluyuran atau apalah, yang jelas mungkin ibu ini menganggapku sudah melakukan hal negatif sehingga pulang larut. Aduh, pikiranku betul-betul negatif.. “astagfirullah” ucapku dalam hati.
“dulu, ibunya icha juga mahasiswa” tatapnya pada anak yang berada pada pangkuannya. Oh, jadi ibu ini bukan ibu anak kecil itu..hhm, i see, nama anak kecil itu Icha
“tapi, ibunya icha, anak ibu, tidak jadi mahasiswa yang baik.. ia malah kawin lari dengan laki-laki teman sekampusnya, dari mereka Icha lahir. Tapi dosa mereka jatuh pada icha, sungguh malang nasibnya. Ibunya telah cerai dengan suaminya, dan menikah dengan oranglain, meninggalkan icha”
Terang ibu itu panjang.. tapi aku tidak setuju, jika dosa dapat diturunkan layaknya gen dalam pewarisan sifat Mendel. Yang aku tau, siapa yang melakukan dialah yang akan memikulnya.  Kalau soal nasib Icha yang kurang beruntung, itu sudah ditakdirkan oleh Allah. Mungkin di satu sisi ia tidak beruntung tapi di sisi lain ia mendapatkan sesuatu yang lebih baik, bukankah Allah itu maha adil. Jelasku sendiri dalam hati. Kata-kataku  itu sendiri mengingatkanku kembali mengenai masalah finansial yang mendera keluargaku, masih teringat jelas percakapan antara ibu dan ayah lewat telfon tadi pagi yang mungkin lebih ocok disebut pertengkaran. Hhmm, entah mengapa, yang aku tahu sekarang yang kulakukan haruslah pandai bersyukur. Pikiranku dibuyarkan oleh suara Icha, yang sepertinya ingin muntah. Ia nampak bersaha menahan muntahnya. Tapii..
“uuuaaaghhttt...” banyak cairan yang lebih layak disebut air putih memenuhi lantai mobil, ya.. air itu berasal dri mulut Icha. Cipratan air juga mengenai rok jeans yang ku kenakan. Yang lain mulai merasa risih, tak terkecuali pak supir
“Maaf.. maaf” ibu paruh baya tu merasa bersalah pada semua penumpang yang ada.
“Anak ibu sakit apa?” tanya salah satu ibu-ibu di angkot
“sakit hipertiroid kata dokter. Gejalanya muntah-muntah, sakit kepala dan tubuh menjadi kurus” terang ibu itu
“kasian sekali, masih kecil sudah sakit seperti ini” ucapku dalam hati. ku keluarkan tisu dari dalam tas, menarik selembar dan menyerahkan sisanya pada ibu paruh baya itu. Ia juga terkena banyak cipratan tadi.
Kubersihkan cipratan air dari rok yang ku kenakan lalu kembali menatapi sekitar lewat jendela angkot yang keruh. Memutar kejadian-kejadian yang kualami hari ini. Hidup adalah pilihan, sekali salah melangkah dalam memilih maka akibatnya bisa saja fatal. Setiap pilihan pasti ada pertanggungjawabannya. Hidup bagai selembar kertas putih, jika hari masih hadir maka akan tercipta lembaran baru. Dan untuk saat ini aku masih memiliki hari ini, kan kuterima hari ini dengan lapang dada karena hari inilah yang aku miliki, ku memilih untuk hidup hari ini tanpa kegalauan, kebencian dan gumpalan keresahan. Bila hari ini aku dapat meminum air jernih, maka mengapa aku harus bersedih atas air asin yang sudah kuminum sebelumnya atau menghawatirkan air hambar yang belum tentu ada.


Rabu, 28 Oktober 2015

PUISI "Kuingin kau seperti angin"




kuingin kau seperti angin
oleh Nurfadillah Salam




Retak relung rasa ini
Terbentur situasi dan keadaan
melahirkan jurang pemisah
yang terasa semakin menjauh dari pelupuk mata
tercipta dari seonggok ego
menepis senyum dan tawa di antara kita

Pernahkah terlintas di benakmu
aku pun ingin diperlakukan sama
bak angin yang tak pernah memilih
daun mana yang ingin ia sapa
ku ingin kau seperti itu

seiring waktu,
ia hadir mengungkung damai itu
rasa ini sepertinya tak ingin lagi berkompromi
dengan sikap dan keangkuhan
yang kini tumbuh
mengakar dan mencekrammu dengan erat

terlalu banyak perih yang tergores di sini
menyisakan luka bernanah
menghimpitku di lorong gelisah
yang semakin lama kian menyiksa

kawan, sadarkah kau bahwa aku juga sama,
yah.. sama sepertimu
rasaku juga halus..
tersentuh nalar sikapmu
yang menancapkan paku nestapa
meninggalkan bayang perih

memori itu kembali terputar
membuat bayangan itu hadir
kala kita beriringan, saling menggenggam

bukankah kau paham
beriringan tak selalu harus menyamakan langkah
juga tak harus mendekap erat
karena jika demikian kau bisa saja terjatuh

kau tentu sering mendengarnya
teman yang baik adalah teman yang selalu mengingatkan 
di saat kau tersalah,
mendekap lembut
di saat kau perih
telah ku coba lakukan semua itu
namun kau selalu mengartikannya salah

bingung..
terkadang berkecamuk di pikiranku
berharap kau mampu menangkap putih yang terucap 
di balik hitam lisanku
bagaimana agar kau tak salah membaca
setiap bahasa tubuh ini
bahwa ia juga ingin dipahami

layaknya lapisan tipis air yang beku
seperti itulah hatiku saat ini




Alauddin, 28 Oktober 2015



Selasa, 20 Oktober 2015



Gema Penggetar Jiwa





Malam kini menjelang. Hadirnya mengorbankan senja yang harus turun tahta, untuk mempersilahkan sang malam mengambil kedudukan. Bulan mulai nampak, seiring dengan simfoni alam yang mulai senyap. Burung-burung berbondong-bondong menuju tempatnya, meninggalkan bayangan tak berjejak. Angin yang sebelumnya terasa hangat, kini perlahan dingin, menelisik sejengkal demi sejengkal permukaan kulit. Merasuk semakin dalam ke setiap pori. Langit perlahan kelam, diiringi dengan bintang yang satu per satu hadir menghiasinya.
Seorang pemuda sedang duduk memeluk lutut di atas hamparan tanah menghitam. Di lengan bawahnya terlihat jelas bekas sayatan-sayatan silet dan lubang-lubang kecil membiru seperti bekas tusukan jarum suntik. Pada lengan bagian atas, ada tato dengan gambar yang tak jelas. Tatapannya sayu dengan lidah keluh. Wajahnya gelap, seakan tertutup dengan gumpalan keresahan. Ia tak percaya akan apa yang telah terjadi. kejadian hari ini menyisakan luka parah di batinnya. Pikirannya terjebak di lorong  gelisah yang tak berujung. Kegundahan merayap dengan cepat memasuki ruang-ruang hati yang semakin dalam. Matanya terpaku menatapi puing-puing kayu yang hangus terbakar. Benaknya dirundung pilu. Ia tak habis pikir, dengan waktu singkat kejadian itu mampu mengubah banyak hal. Tempat yang dulu tertata kini menjadi ambur adul. Pepohonan hijau yang tumbuh menghiasi  parkiran pasar kini daunnya menghitam, ciut karena terjilat api. Pohon yang sebelumnya menawarkan keteduhan, kini hanya memberi bayang perih.

Ingatannya bergerak mundur menelusuri kejadian demi kejadian yang telah lalu. rasa bersalah terus menari-nari di benaknya. Segala yang hadir di depannya pun seakan menyindir dan memberikan teguran keras untuk apa yang telah ia lakukan. Menyia-nyiakan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
***Hidupnya hancur, semenjak ia mulai memasuki bangku SMA. Saat di mana ia mulai menemukan kebebasan bersama teman-teman sekolahnya. Masih teringat jelas ketika ia dan teman-temannya duduk di lapangan belakang sekolah, seseorang  yang  tak dikenal memberinya bungkusan bening yang berisi bubuk putih. Katanya, dengan mencoba sedikit saja, perasaan bahagia akan membara di dalam diri dan mampu membuat pikiran melayang-layang. Dengan rasa penasaran, ia dan teman-temannya mulai mencicipi bubuk putih itu. Rasanya hambar, namun mungkin hanya dalam hitungan menit terasa bahagia membuncah di dalam hati dan pikirannya. Bereuforia, mengembara seolah sedang bermimpi di tempat yang indah dan penuh kedamaian.

Bubuk putih itu masih tersisa cukup banyak. Sesampainya di rumah, dikomsumsinya lagi bubuk putih itu. Dan kejadian sebelumnya terulang kembali. Terasa hatinya melayang ke tempat yang sangat menyenangkan dan sangat indah.
Beberapa hari setelah kejadian mencicipi bubuk putih itu,  demam, pusing dan mual beradu dalam dirinya. “Mungkin ini hanya sakit biasa” batinnya. Dengan tubuh yang menunjukan gejala sakit, Ia tetap ke sekolah. Bertepatan dengan hari itu, beberapa teman sekolah yang berkecimpung di sebuah organisasi anti narkoba datang untuk bersosialisasi di kelasnya. Mereka menjelaskan banyak hal tentang narkoba, mulai dari bahaya penggunaan narkoba, jenis, bentuk dan akibat apa yang ditimbulkan dari penggunaan narkoba tersebut. Salah satu jenis narkoba yakni heroin, dimana bentuknya seperti bubuk dan berwarna putih. Akibat dari penggunaan semua jenis narkoba akan menimbulkan adiksi yakni ketergantungan yang ditandai dengan mual, pusing dan panas di sekujur tubuh.
Seketika petir terasa menyambar pikirannya. Mungkinkah bubuk putih yang ia komsumsi beberapa hari yang lalu itu adalah narkoba. Rasa takut lalu menyelimuti batinnya. Menyeruak di antara pori-pori kulit yang menghasilkan keringat dingin.
Dengan perasaan takut, ia menunggu orang yang memberi bubuk putih itu di lapangan belakang sekolah berharap ia berlalu di tempat itu seperti kejadian beberapa hari sebelunya. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya orang itu pun datang. Tapi bukannya memberikan solusi, ia malah kembali menawarkan bubuk putih. Tapi berbeda dari yang sebelumnya, bubuk putih itu diberinya tarif seharga 50 ribu, jumlahnya bahkan lebih sedikit dari yang diberikan sebelumnya. Dengan bujuk ray dan tipu muslihat, ia lalu menerima tawaran itu tanpa memikirkan tujuan utama Ia ingin menemui orang tersebut.
Kejadian adiksi itu terus berulang, bahkan dengan level yang semakin tinggi, dan setiap kejadian itu terulang, ia terus mengomsumsi bubuk putih itu. Perlahan ia merambah menggunakan jenis-jenis narkoba yang lain dan dengan cara mengomsumsi yang bervariasi pula, salah satunya melalui suntikan.

Sampai pada suatu waktu, dimana ia memaksa orang tuanya untuk memberinya uang. Ya, untuk memenuhi hasrat akibat adiksi yang dideritanya. Berbagai cara kasar dilakukan, yang membuat dua insan renta yang akrab dipanggilnya ayah dan ibu itu meneteskan air mata. Perangainya membuat hati kedua orang tuanya teriris, menyisakan luka yang tiap hari semakin parah.  Untuk memenuhi keinginannya, ia mulai mencuri. Ia terbiasa mengambil uang di toko orangtuanya secara diam-diam. Bahkan ia berani mencuri uang dari toko lain yang berdekatan dengan toko milik ayahnya. Kenakalannya semakin menjadi-jadi, semakin tak pernah perduli akan larangan dan nasehat dari orang tuanya,  ditambah oleh hasutan dari teman-teman yang terjerumus di kubangan yang sama. Beragam jalan gelap ia tapaki. Penampilannya semakin hari semakin buruk. Satu persatu tato mulai diukir pada tubuhnya, memberi warna pada kulitnya yang putih.

***
            Kemarin, semua masih berjalan seperti biasanya. Orangtuanya masih hadir menegur setiap apa yang ia lakukan. Sampai pada kejadian 17 jam yang lalu, semua yang terjadi meluluh lantahkan perasaannya, merenggut orang-orang yang selama ini telah disia-siakannya. Tak banyak yang bisa ia lakukan, hanya menangis meratapi setiap hembusan nafas yang ia habiskan dengan kerugian, sembari merontah di atas puing-puing penyesalan.
            Diiringi dengan awan yang berarak tanpa jeda yang perlahan memudar, hancur dan kembali berbentuk, Ia masih di tempat yang sama, memutar ulang rekaman yang ada di memori otak. Perlahan namun pasti, gelisah merasuk semakin dalam di benaknya kala film masa lalunya terputar.
            Alam masih menari dalam simfoninya. Gelap semakin merajai bumi. Pohon-pohon dengan daun yang telah menghitam seakan menatap ke langit menanti butir-butir yang mampu melepaskan dari kepenatan udara yang berbau asap. Perlahan terdengar gemah takbir yang menggetarkan jiwa. Menumpas gelisah yang bersemayam. Memberikan tenaga kepada hatinya untuk tetap tegar, bertarung dengan kenyataan yang ada, memberikan celah di antara lorong gelisah. Hadir sebagai secerca sinar di tengah kalutnya pemikiran untuk menjalani hidup. Untaian kalimat-kalimat indah berikutnya, kemudian merenggangkan udara, menyentuh gendang telinga dengan lembut, menggetarkan tulang-tulang pendengaran, mengantarkan  impuls semangat ke dalam otak. Kalimat-kalimat itu hadir membasuh hati yang telah lama kering kerontang, yang selama ini tak pernah memperoleh tempat di hidupnya.

            Hatinya perlahan diselimuti oleh ketenangan dan mulai terbesit keinginan untuknya membenahi semua ini. Suara adzan itu mengisyaratkan panggilan jiwa yang mendalam untuknya. Dengan gerak yang lamban, tangan dan kakinya mulai berpindah posisi. Tubuhnya yang kerontang kini nampak berdiri. Langkahnya siap diayunkan untuk berharap ampunan pada sang Pencipta hidup dan mati. Tak banyak yang bisa ia lakukan selain mengharapkan ampunan dari-Nya, berharap hidupnya lebih baik dari yang telah lalu. Perlahan semangat hadir dalam langkah kaki diayunkan menuju gerbang ampunan yang memperbaiki hidupnya. Setidaknya ia telah memutuskan melangkah dan berlari dari kobaran api yang menyiksa daripada memasrahkan diri terbakar api itu untuk menapaki jalan baru dimana mungkin di sana akan banyak onak dan duri yang menanti.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Sehat dengan Sunnah

Sehat dengan Sunnah





Assaamu'alaikum,

sahabat, jika ada manusia sempurna maka manusia yang paling sempurna adalah Rasulullah saw. Kesempurnaan pribadi Rasulullah bukan hanya dalam penampilan luar saja, tetapi juga beliau sempurna dalam fisik, spiritual dan ahlaknya. Karena itulah, Allah SWT. menjadikannya sebagai teladan bagi kehidupan manusia, di dalam firmannya;“sesungguhnya telah ada pada (diri)  Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”  (Q.S al-ahzab : 21).

Muslim yang kuat yang hanya dapat diperoleh dengan kondisi fisik yang kuat pula. Kesehatan adalah dasar yang sangat penting untuk terwujudnya kekuatan seorang mukmin. Rasulullah telah meneladankan pola hidup sehat. Nah, pertanyaannya, bagaimana pola hidup sehat yang diteladankan oleh Rasulullah? sebaiknya sahabat baca dulu buletin ini sampe tuntas.

Bagaimana makan sehat ala Rasulullah SAW ??

 ‘Tiada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga) maka jika ia tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk bernapasnya” (HR. Ahmad dan Ibnu Maja)

Makan terlalu banyak dapat memberatkan kerja sistem pencernaan, dapat membuat pH tubuh menjadi asam, bila tubuh tidak bisa mengatasi hal tersebut, maka akan terjadi penumpukan karbondioksida yang mengakibatkan sel-sel tubuh akan rusak. Ketika lambung dipenuhi oleh makanan, maka terjadi peningkatan aliran darah ke lambung untuk membawa oksigen, menyebabkan oksigen di bagian tubuh lain berkurang.
Dari abu Qatadah , bahwa Nabi saw melarang menghembuskan nafas di dalam bejana (ketika minum)”  (HR. Bukhari dan Muslim). Sahabat, orang yang bernafas mengeluarkan CO2, dan jika zat ini bersenyawa dengan air (H2O), maka akan terbentuk H2CO3 yang merupakan senyawa berbahaya bagi tubuh. Hal ini juga akan terjadi pada saat kita meniup makanan panas.

Berkaitan dengan adab makan, Rasulullah juga menganjurkan kita untuk makan dan minum dengan duduk. Air yang masuk akan disaring oleh sfringer, yakni suatu struktur berotot yang bisa membuka sehingga air seni bisa lewat dan menutup. Sehingga air yang kita minum akan disalurkan ke ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Nah, jika kita minum berdiri, air yang kita minum tidak disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih yang menyebabkan terjadinya pengendapan di saluran ureter karena banyak limbah yang tersisa, tidak terangkut bersama air. Iniah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata: “minum sambil berdiri akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dalam organ-organ pencernaan yang jika dilakukan secara berulang-ulang akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus. Penyakit ini disebut usus turun”

Makanan dan minuman yang terbuka sangat muda terkena debu ataupun dimasuki binatang pembawa kuman seperti lalat, cicak dan sebagainya. Berkaitan dengan ini, Rasulullah mengajarkan, “jika ada seekor lalat yang terjatuh pada minuman kalian maka tenggelamkan, kemudian angkatlah (lalat itu dari minuman tersebut), karena pada satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat” (HR Bukhari).
Bagaimana penjelasan hadist ini menurut sudut pandang ilmiah ??
Lalat hidup di sampah dan limbah organik yang mengandung sejumlah besar bakteri, virus dan berbagai mikroba lainnya serta kuman. Allah yang maha kuasa, memberikan lalat kemampuan untuk membawa kuman pada salah satu sayapnya dan obat penawar pada sayap yang lain. Jika tidak, tentu spesies lalat sudah pasti binasa karena terkena kuman yang dibawanya bukan? Tapi kenyataannya masih banyak spesies lalat yang bertahan hingga saat ini. Beberapa orang mungkin tidak senang dengan ide membenamkan lalat dalam minumannya. Namun, ini bisa diterapkan dalam kasus-kasus darurat, ketika hanya memliki sedikit air.

Bagaimana Pola Tidur yang Baik ??

Tidur merupakan perkara yang sering dillakukan oleh manusia. Dari tidur, kita bisa merehatkan sejenak pemikiran dari sekelumit aktivitas yang dilakukan. Namun terkadang kita sering mengabaikan posisi tidur yang dicontohkan Rasulullah. Lantas bagaimana posisi tidur sahabat sekalian ? apakah sudah benar ??
“Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah posisi tidur yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Pada saat seseorang tidur dalam posisi ini, jantung hanya terbebani oleh paru-paru kiri yang berukuran lebih kecil dari paru-paru kanan. Juga menempatkan hati pada posisi yang stabil. Selain itu, ini juga akan memudahkan proses pencernaan. Lambung yang terletak di bagian kiri rongga perut, akan lebih mudah memasukkan isinya ke dalam usus halus di bawahnya saat tubuh berada posisi ini. Menurut penelitian, makanan akan mampu dicerna oleh usus dalam 2,5 sampai 4,5 jam. Sedangkan pada posisii tidur yang lain makanan baru akan selesai dicerna setelah 5 sampai 8 jam.

Kapan saat tepat kita tidur ? Jika mengacu pada sistem kerja organ vital tubuh, maka tidur yang baik adalah pada awal malam, sekitar jam 8 malam. Sebab empedu aktif bekerja antara jam 11 malam hingga jam 1 dini hari,. Sementara hati mulai aktif bekerja mulai jam 1 malam. Apabila pada jam-jam tersebut kita masih belum tidur, apalagi masih asyik makan-makan, maka sebenarnya kita telah merusak alur tubuh kita sendiri. Jadi, upayakan untuk tidak tidur larut malam. Hal ini berkorelasi positif dengan hadis “Bahwasanya Rasulullah SAW. Membenci tidur malam sebelum sholat Isya dan berbincang-bincang setelahnya (begadang) (HR Bukhari dan Muslim).

pola hidup yang sehat tentunya tidak hanya dengan membiasakan diri melakukan makan dan tidur yang teratur, tetapi juga dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar agar tidak dihinggapi oleh vektor-vektor penyakit serta rutin berolahraga. 


Sabtu, 26 September 2015

PUISI Cinta untuk Mu



Cinta untuk Mu
Oleh Nurfadillah Salam



Saat hati gundah
Resah tanpa arah
Menanti cahaya Mu
Menerangi jalanku yang sedang redup
Menjadi pelita
di tengah gersangnya jiwa

Uraian kalimat Mu

Basuh hati yang rindukan cinta
Mendekap lembut dengan irama syahdu
Menari di atas air mata ketenangan

Hadir mu dalam relung hati

Lepaskanku dari jerat keraguan yang menggelisahkan
Menumpas keresahan
Kala ia datang menghadang 

ku sadar, cintaku tak seteguh gunung
karena terkadang ia rapuh
tergoda oleh bisikan waktu

Cintaku juga tak selembut bunga yang bersemi
yang mungkin layu terkikis amarah
juga tak sejernih air yang mengalir
karena terkadang ia ternoda oleh pengingkaran
Ia datang dari hati yang penuh harap
Menanti kasih dari Mu 

Gowa
26 September 2015

Jumat, 18 September 2015

Puisi "Antara Aku dan Sepi"

Antara Aku dan Sepi

oleh Nurfadillah Salam

Dikala sepi datang menyergap
yang terasa hanya pilu di benak
kembali kubuka lembaran masa lalu
yang ku temukan hanya penyesalan

akalku menyadari
bahwa setiap hela nafas 
akan ada pertanggungjawabannya 
dan setiap detik yang melintas ditubuhku
sudah pasti mengurangi pundi-pundi waktu yang ada

gelisah lalu bertengger di hati
enggan hatiku untuk tenang
pikiranku merontah
menahan derita

perlahan air mata kembali tumpah
menyeruak di atas wajah 
kala akal berusaha menembus batasannya
memberontak akan keputusan yang ada
namun yang kutemui hanya kesadaran
bahwa betapa kecilnya diriku ini di hadap-Nya

masih di sisa nafasku
duri dan sutera bertamu
awan terarak gelap dan terang silih berganti
mencium semerbak di gumpalan keresahan 

Kamis, 17 September 2015

Puisi Pagi

Puisi Pagi



sang gelap kini tergeser oleh benderang
kesunyian mulai berganti dengan nyanyian pagi
mengisyaratkan perintah tuk menyudahi malam
membuka lembaran baru dalam buku hidup

udara putih penuh dengan semangat
memasuki tenggorokan yang haus akan ketenangan
perlahan membawa kesejukan
merasuki kepingan hati yang pernah retak

gelisah kini bertarung dengan harapan
kupejamkan mata berharap harapanlah yang akan menang
walau keraguan menjelma di dada

ku tak sendiri..
pagi masih hadir menemani
membuka sejuta kesempatan
tuk kembali menjahit asa yang pernah terlelap

hangat mentaripun kan merengkuh
langit juga tetap setia menemani
merayu tuk melukiskan asa 
bertintakan rasa berkuaskan jiwa

Gowa
17 september 2015